Nuriahman: Setiap Orangtua Mendambakan Anak-anaknya Sukses

oleh

 Nuriahman: Setiap Orangtua Mendambakan Anak-anaknya Sukses

PONTIANAK – Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) Fakultas Syari’ah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, H Nuriahman, SE, M.Ag, mengatakan setiap orang pasti mendambakan anak-anak yang sukses, mandiri, menyenangkan hati, dan menjadi kebanggaannya, sehingga keinginan orang tua dominan dalam membentuk kepribadian dan kesuksesan seorang anak.

Merekalah yang mewarnainya apakah menjadikannya hitam, putih, merah dan seterusnya. Seiring perkembangan umur dan lingkungan peran orang tua bisa menjadi berkurang bahkan menjadi lemah, sehingga terkadang keinginan anak tidak sejalan dengan keinginan orang tuanya, cita-cita orang tua agar anaknya menjadi A namun kemauan anaknya menjadi B, dan seterusnya. 

Dalam kehidupan nyata kondisi ekonomi orang tua sangat mempengaruhi kesuksesan ekonomi anaknya, namun motivasi anak jauh lebih menentukan. Minimal terdapat empat kondisi ekonomi orang tua terhadap kesuksesan seorang.

“Yaitu, Orang Tua sukses, mampu secara ekonomi namun ketika sejak kecil anak dididik tidak mandiri, bahkan segala kemauannya dituruti, tidak pernah dibantah apapun kemauannya sehingga tingkat ketergantungannnya sangat dominan,” ujarnya, Rabu (29/5/2019).

“Ketika orangtuanya tidak berdaya, kemampuan ekonominya menurun sementara dia sudah terbiasa dengan hal-hal yang nyaman, maka itu menjadi pukulan berat baginya bahkan tidak jarang melakukan hal-hal negatif lantaran tidak terbiasa dengan hal-hal yang susah,Inginnya memperoleh hasil yang besar dan banyak dengan sedikit upaya,” ungkapnya.

Memang orang tua mana yang menginginkan anaknya susah? namun kelengahan, memberikan semua kemauannya sejak kecil ternyata kurang baik terhadap kemandirian anak.

Orang tua sukses dan mampu secara ekonomi namun anak mau dan mampu menggunakannya ke arah yang positif secara maksimal hasilnya justru akan lebih sukses dibandingkan dengan orang tuanya. 

Ketika anak ingin melanjutkan pendidikannya lebih baik dan lebih tingggi, didukung oleh biaya, sarana dan prasarana yang baik dan digunakan kearah yang positif justru akan mendukung keberhasilannya. 

“Kondisi seperti inilah yang sangat ideal dan tidak semua anak mengalami dan memiliki kondisi ini,” katanya. 

“Orang tua kondisi ekonominya biasa-biasa saja, namun anaknya memiliki motivasi yang kuat ingin maju, ingin merubah kondisi hidupnya, bangkit dari keterpurukan niscaya akan mampu dan dapat mengatasi hambatan-hambatan,” jelasnya.

Dikatakannya lagi, “Banyak contoh dan cerita ketika seorang anak yang dianggap tidak mungkin bekarir dan sukses lantaran latar belakang ekonomi orang tuanya yang serba kurang namun ketika dewasa suskses dan mandiri,” jelas Kabag TU Fakultas Syari’ah IAIN Pontianak itu. 

Ia menjelaskan, Sesungguhnya usaha dan pengorbanan dibutuhkan untuk meraih suatu impian. Ketika ada kemauan seribu hambatan atau masalah yang datang dicari jalan keluarnya dengan beribu-ribu cara, demikian sebaliknya jika tidak ada kemauan walaupun yang datang seribu kesempatan berbagai alasan dicari masalahnya sehingga peluang yang ada menjadi sia-sia. 

Orang tua kondisi ekonomi biasa-biasa saja, anaknya tidak memiliki motivasi yang kuat ingin maju, maka akan sulit untuk bangkit dari keterpurukan. Inilah yang banyak terjadi, malas untuk berbuat dan berfikir, hidup apa adanya, manajerial waktu dan potensi kurang baik. 

“Bukankah Tuhan telah memberikan potensi kepada setiap hambaNya, tergantung kepada hambanya apakah mampu mengenali potensinya dan tidak terbuai kemiskinan dan kelemahan-kelemahannya,” imbuhnya.

“Memang untuk berubah itu sulit, akan mengalami berbagai hambatan namun bukan berarti tidak bisa, memerlukan kesungguhan, tekad dan usaha yang kuat, dan yang lebih utama adalah memohon doa dan kekuatan kepada Tuhan,” bebernya.

Menurutnya, Memang kesuksesan hidup bukan hanya diukur dari kecukupan ekonomi. Namun kemampuan ekonomi sangat diperlukan untuk mencapai kebahagian jika dipergunakan dengan baik dan sesuai dengan peruntukannya, didapat dengan cara yang halal, dialokasikan untuk berbagi (zakat, sedekah, dsb), dan yang lebih utama pandai dan mau mensyukurinya. 

“Jika kecukupan itu juga dapat dirasakan oleh orang lain dan dalam menggunakannya tidak berlebihan, Hidup menjadi berkah, kesenangan nya akan selalu bertambah serta membawa keabaikan untuk dirinya dan keluarganya,” tutup Nuriahman. ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!